Rabu, 28 Februari 2018

Kesenian kuda lumping, kesenian lokal dan nostalgia

Hentakan musik gamelan Jawa dengan suara terompet khas pertunjukkan kesenian kuda lumping terdengar begitu menggoda untuk mendekat dan menyaksikan. Sesekali juga terdengar sang penyanyi wanita atau akrab disebut Sinden melantunkan lagu Jawa yang khas.

Pernah melihat atau menyaksikan pertunjukkan seni bernama Kuda Lumping ? Atau di daerah Jogja biasa disebut dengan nama Jathilan. Kesenian ini tergolong kesenian kuno. 

Kuda lumping atau Jaran Kepang
Berupa tarian Jawa dengan tarian seolah sedang menaiki kuda. Kuda-kuda tiruannya terbuat dari anyaman bambu. Nah anyaman bambu itu jika di Jawa diberi nama Kepang, sehingga kesenian ini juga ada yang menyebutnya Jaran Kepang.

Jaran artinya kuda dan kepang itu berupa papan dari anyaman bambu !

Kerumunan penonton rupanya sudah  terlihat berdesakan di tepi lapangan tempat pertunjukkan kesenian Kuda Lumping. Siang tadi, saya kurang cepat datang ke lokasi pertunjukkan untuk mencari tempat yang nyaman mengambil foto. Ratusan penonton rupanya sudah memadati tepi lapangan. Hingga untuk mencari tempat mengambil gambar yang baik pun agak kesulitan.
Penari Kuda Lumping
Di tengah jaman serba modern dan canggih saat ini, saya pikir kesenian ini akan sepi penonton karena pergeseran pola pikir dan budaya masyarakat. Perkiraan saya ternyata salah !  Selain eyang putri atau kakung, bapak dan ibu, pertunjukkan kesenian ini ternyata cukup diminati para remaja. Mereka cukup antusias berdesakan di tepi lapangan menyaksikan pentas kesenian kuda lumping.

Lupa, kapan terakhir menyaksikan kesenian ini ? 

Mungkin sepuluh tahunan lebih ! Entahlah, yang saya ingat terakhir menyaksikan pertunjukkan sejenis ini saat di Jogja. Ketika di lingkungan kos ada salah satu warga memiliki hajatan dan memesan pertunjukkan Jathilan. Sepuluh tahunan lebih rasanya bukan waktu yang singkat, hingga saya pikir kesenian ini benar-benar sudah sepi peminat dan hilang ditelan jaman.
Sesaji dan sang Pawang
Siang ini perkiraan itu ternyata salah dan terbantahkan. Kuda lumping masih ada dan dimainkan oleh muda-mudi. Mereka masih memiliki semangat untuk terus melestarikan seni budaya asli negeri ini. Mereka juga tidak peduli dengan derasnya budaya dari negeri lain, buat mereka seni adalah tetap seni. 
Penari sudah mulai kerasukan ruh
Rasanya cukup senang, masih bisa menyaksikan kesenian kuda lumping lagi. Selain menjadi hiburan, menikmati tarian dan akrobat kuda lumping juga mengingatkan saya ketika masa kanak-kanak. Saat akrobat sang pemain dilecut menggunakan cemeti kuda, saat mereka mengunyah kelapa dan saat banyak akrobat ekstrim lainnya dilakukan oleh para pemain.

Konon, saat para pemain berakrobat. Maka saat itulah para pemain sedang kerasukan ruh, hingga mereka tiada sadar saat dilecut atau mengunyah sesuatu yang ekstrim. Karena terlalu penasaran, sambil berseloroh saya bertanya pada salah satu pemain. 

“Rasanya apa saat kerasukan roh?” Begitu tanya saya, pada salah satu pemain dan juga tetangga saya.

“Nggak terasa apapun, hilang sadar, kemudian setelah sadar dan roh lepas, maka badan terasa sangat lelah dan pegal-pegal.” Jawabnya.
Penari yang sudah kerasukan
Apapun, percaya atau tidak. Saya hanya tertarik menyaksikan dan tidak tertarik ikut merasakan kerasukan ruh seperti yang terjadi pada penari kuda lumping tersebut. Bagi saya, menonton pertunjukkan kuda lumping adalah hiburan untuk mengingat dan mengenang lagi kesenian ini.
Kepala barongan diantara peralatan gamelan
Terasa seperti sedang kembali ke masa lalu, saat kanak-kanak, saat terbirit-birit ketakutan ketika barongan kuda lumping tiba-tiba seperti mengamuk.

Dengan kesenian, kita pun bisa bernostalgia. Pernahkah menyaksikan kesenian ini ?

11 komentar:

  1. Mas, di Jogja sekarang kalau mau nonton jatilan harus bayar hahahahah. Ada tiketnya sekarang, kalau tidak salah 2 ribuan :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah iya to, kalau dulu tahun 2003 masih gratis Mas..itu aja sepi peminat... :-D

      Hapus
  2. aku tiba2 kepikiran pengen bikin video kuda lumping :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iya, aku malah ngga kepikiran Mas..next time aku bikin vlognya deh..TQ Mas sdh mau mampir..

      Hapus
  3. heuheuheu
    mbiyen pas jaman cilik sering nonton jaran kepang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, sekarang kalaupun nonton memang sengaja buat dokumentasi

      Hapus
  4. Aku suka takut kalau ada yang kerasukan mas. Jadii jaraaang nonton. Huhu

    BalasHapus
  5. Kalau di daerahku Punggelan Banjarnegara hampir tiap pekan ada kuda lumping atau embeg.. Ruamai bgt, tapi seumur2 aku blm pernah nonton. TakutπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haahhaaha πŸ˜‚ ...
      Kok kak Ella takut ?

      Takut kesamber ikutan kesurupan kayak pemainnya yaa ... ?

      Hapus
    2. Iya kali Mas.Himawan...kalau pernah main kuda lumping kemudian nonton bisa trs disamber dan jadi ikutan kesurupan.

      Hapus