Angkringan Lik Man, Tugu Jogja dan Kenangan Masa Lalu

Malam itu, saya memilih berjalan kaki seorang diri menyusuri jalan Mangkubumi Jogjakarta. Kereta api yang akan saya naiki dari stasiun Tugu Jogja ke Surabaya Gubeng baru akan datang pukul 02.30.
Sedangkan saya sudah sampai di Jogja dari kota saya Cilacap pukul 24.30. Jadi mau nggak mau daripada bengong sendiri di depan stasiun, saya memilih jalan-jalan menghabiskan malam sembari menunggu kereta api yang akan saya naiki datang, meskipun harus seorang diri seperti seorang backpacker.
Tugu Jogjakarta, dini hari
Saya memang memilih berjalan kaki daripada memesan ojek online. Selain berhemat, saya bisa lebih menikmati perjalanan dengan berjalan kaki.

Setelah turun dari bus shuttle yang membawa saya dari agen bus Efisiensi, di depan stasiun Tugu pintu bagian Pasar Kembang. Saya tidak langsung masuk ke Stasiun. Malam itu saya memilih berjalan menyusuri jalan Pasar Kembang menuju Mangkubumi. 

Suasana di depan stasiun Tugu pintu pasar Kembang malam itu cukup ramai, meskipun mendekati pukul 01.00 dinihari. Driver ojek online bertebaran dimana-mana, menunggu calon pelanggan. Melangkah beberapa puluh meter hingga teteg sepur jalan Malioboro Jogja, suasana juga tidak kalah ramainya ! 

Cukup banyak muda-mudi wisatawan lokal yang sedang asyik menunggu antri berselfie ria di bawah plang jalan Malioboro Jogja.

"Jogja memang banyak perubahan". Gumam saya dalam hati

Saya tidak tertarik berfoto disana, selain seorang diri, karena malam itu tenggorokan saya terasa sangat haus. Rasanya ingin segera menikmati segelas jahe hangat di angkringan, sambil bernostalgia. Langkah kaki tetap saya langkahkan menuju sisi barat stasiun Tugu mengarah ke angkringan kopi Jos Lik Man.

Setelah menyeberang rel kereta dan melangkah beberapa puluh meter, kerumunan dan suasana riuh canda dan bincang pengunjung bisa saya temui di Lik Man. Keramaian inilah yang membuat saya agak gugup dan canggung hendak singgah menikmati jahe panas. Suasana ini benar-benar jauh berbeda saat dahulu saya masih sering singgah di angkringan Lik.Man.

Jauh lebih ramai dibandingkan dahulu !  Pengunjung angkringan yang lesehan malam itu sangat banyak, penuh sesak. Bahkan di kanan-kiri jalan Mangkubumi Jogja pun, banyak juga berdiri tenda-tenda angkringan kopi Jos. 

Entahlah, mana yang  angkringan Lik Man dahulu ?

Meskipun semula sedikit ragu, akhirnya saya memilih angkringan Kopi Jos yang di jalan Wongsodirjan. Angkringan ini yang dahulu pernah menjadi langganan saya semasa masih kos di Jogja. 

Dan segelas wedang jahe panas pun saya pesan. Sembari menikmati panas dan pedasnya segelas wedang jahe geprek. Saya memperhatikan jajanan-jajanan yang terhidang di gerobak angkringan.

Jajanan ciri khas angkringan masih bisa saya jumpai. Ada gorengan tempe, tahu, bakwan, nasi kucing, sate usus, sate kerang, sate ati ampela, baceman kepala ayam dll.. Selain jajanan khas angkringan, di Lik.Man saya juga bisa menjumpai jajanan-jajanan kekinian seperti otak-otak yang juga ikut disuguhkan untuk pengunjung.

Menikmati suasana Tugu Jogja.

Kurang lebih setengah jam beristirahat sambil menikmati jahe panas yang mulai menghangat bersama beberapa potong gorengan. Akhirnya saya menyudahi nongkrong malam di Lik.Man. Karena masih ada beberapa jam sebelum kereta datang, akhirnya saya memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk berjalan ke Tugu Jogja.
Segelas jahe panas, bersanding bersama jajanan angkringan lainnya
Karena tidak terlalu jauh, saya pun memilih berjalan sembari menyusuri jalan Mangkubumi Jogja menuju Tugu. Sepanjang jalan Mangkubumi rupanya sekarang banyak tenda-tenda angkringan bergaya lebih modern dan luas. Hampir semuanya menyediakan kopi jos khas Lik.Man. Angkringan-angkringan modern ini didesain lebih kekinian dan jauh berbeda dengan angkringan biasa pada umumnya.

Gerobak lebih modern, tempat nongkrong lesehan lebih luas dan lega. Berbeda dengan angkringan jadul yang terkesan remang-remang dan apa adanya. Mungkin beginilah kenyataan bisnis, jika dahulu angkringan kurang dilirik dan terkesan hanya untuk anak kos yang kepepet. Maka kini angkringan justru dilirik sebagai sebuah peluang usaha yang menjanjikan.

Malam itu Tugu memang agak sepi, karena selain sudah terlalu larut. Malam itu juga bukan malam minggu. Jadi hanya beberapa pemuda yang sibuk berfoto dan mengambil foto Tugu pada malam hari, termasuk saya.

Akhirnya karena terlalu lelah, setelah mengambil beberapa foto. Saya memutuskan untuk kembali ke stasiun dan beristirahat sambil menunggu kereta datang. Rasanya memang terlalu banyak kenangan di kota yang pernah aku singgahi selama delapan tahun. Jogja, antara cerita menuntut ilmu dan sebuah cinta sejati, aku dan almarhumah Istriku.



Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Angkringan Lik Man, Tugu Jogja dan Kenangan Masa Lalu"

Posting Komentar