Urung makan malam di Jogja, ayam goreng Lezzat jadi penggantinya


Perjalanan dari Cilacap ke Jogja pada weekend minggu ini seperti memberikan kesan tersendiri bagi saya, selain keputusan mengantar seorang tamu ke Jogja yang mendadak.
Pada perjalanan kali ini, saya juga harus ikut berdesakan di jalan bersama rombongan kendaraan lainnya yang juga berencana akan menghabiskan liburan akhir pekannya di Jogja. 

Padatnya jumlah kendaraan, setelah Buntu Banyumas
Berangkat pukul 15:00, perjalanan dari Cilacap hingga perempatan Buntu, kepadatan arus lalu lintasnya belum terasa. Tapi ketika sampai pada perempatan Buntu Banyumas, kepadatan kendaraan sangat terlihat perbedaannya. Rombongan bus-bus pariwisata besar, konvoi klub motor, konvoi perkumpulan klub mobil-mobil antik dan kendaraan pribadi Plat Jakarta turut meramaikan suasana jalan malam itu.

Euforia libur panjang seolah mengalahkan suasana jalan yang beranjak malam ditambah basahnya jalanan karena guyuran hujan yang cukup deras dari Gombong hingga Kebumen. Bagi kendaraan roda empat, hujan mungkin bukan hambatan berarti, namun konvoi-konvoi kendaraan roda dua seolah tidak terganggu oleh derasnya hujan. Mereka memilih menggunakan jas hujan dan tetap melanjutkan perjalanan mereka ke Jogjakarta.

Padatnya lalu lintas, akhirnya memaksa mobil Kami berjalan merayap lambat dan berakibat pada bertambahnya waktu tempuh perjalanan. Biasanya dengan kondisi jalan normal saya biasa menempuh 4 jam perjalanan Cilacap ke Jogja, tapi kali ini mungkin bisa mencapai 6 jam perjalanan atau lebih.

Makan malam yang gagal

Rencana sebelumnya rombongan yang saya antar berencana makam malam di Jogjakarta, mereka ingin menikmati gudeg batas kota Jl. Solo dengan hangatnya teh panas sebagai penghangat tubuh setelah menempuh perjalanan dari Cilacap ke Jogja.

Tapi karena waktu tempuh perjalanan yang bertambah karena padatnya kendaraan, rencana makan malam di Jogja terpaksa dirubah. Pada tiga perempat perjalanan, tepatnya di Kutoarjo kami memilih beristirahat untuk makam malam, karena perut yang sudah tidak mungkin bisa menunggu untuk diisi sampai 2 -3 jam lagi perjalanan.

Ayam goreng Lezzat

Sebuah rumah makan Ayam goreng Lezzat, disamping waralaba Indomaret Kutoarjo, tepatnya jika Anda dari arah barat, RM Ayam goreng Lezzat berada di kiri jalan setelah garasi Bus. Sumber Alam. Dengan plank merah besar bertuliskan “Ayam goreng Lezzat”, tentu tidak sulit untuk menemukannya.
Suasana di RM Ayam goreng Lezzat

Suasana rumah makan yang sederhana tapi tergolong bersih dan tertata rapih. Terdapat 6 deret Meja  makan dengan masig-masing deret berisi 6 hingga 8 kursi untuk pengunjung.

Menu yang ditawarkan juga cukup beragam, ada Ayam goreng dan bakar, Kwetiau, Nasi Goreng, Mie Goreng, Cah Kangkung, Sop Iga dan lain sebagainya. Sedangkan minuman jika diperhatikan tersedia minuman standar rumah makan pada umumnya, seperti : Teh panas, Es Teh, Jeruk panas, Es jeruk, Soda gembira dan lain sebagainya.

Malam itu karena saya menjadi pihak yang ditanggung dengan dibayarin alias gratisan, memilih menu makanan yang nggak aneh-aneh merupakan sebuah kewajiban bagi saya..nggak enak tentunya jika dibayarin kita memesan menu yang aneh-aneh dan mahal harganya..

Cukup 1 porsi Ayam goreng plus Nasi putih tentunya, pesan saya ketika ditanya oleh Tamu yang akan saya antar ke Jogja.. Dan tidak lupa juga, 1 gelas teh panas ikut saya pesan untuk penghangat tubuh dan pelepas dahaga.
Satu porsi ayam goreng kremes di RM Ayam goreng Lezzat Kutoarjo
Menunggu kurang lebih 10-15 menitan, akhirnya 1 porsi ayam goreng dengan Nasi putih dan Sambal dadak yang disajikan terpisah sudah tersaji menggoda di meja depan saya, bersama dengan satu gelas Teh panas. 

Selesai foto-foto secukupnya, 1 porsi ayam goreng kremesan dengan Nasi putih dan Sambel dadak yang disajikan terpisah segera saya nikmati perlahan tapi pasti dan dinikmati suap demi suapnya. Over all, ayamnya enak empuk dengan bumbu yang meresap sampai ke daging bagian dalamnya. 

Sambal dadak “mendadak”, sambal yang baru dibuat ketika akan disajikan juga enak dan sangat menggugah selera makan saya malam itu. Nggak kecewa deh, meskipun harus membatalkan makan gudeg di Jogja malam itu.

Postingan terkait:

5 Tanggapan untuk "Urung makan malam di Jogja, ayam goreng Lezzat jadi penggantinya"

  1. Aku aps akhir pekan aman, nggak kena macet karena nggak keluar jauh-jauh ahahhahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma ke Solo ya Mas, ikut seminar dengan fotografer NatGeo..hehehe

      Hapus
    2. Ke Solonya sebelum libur panjang. Pas libur panjang banyak waktu untuk sepedaan

      Hapus
  2. kebetulan ni mas pertengahan ramadhan aku mau ksana, bisa lah ni t4 jadi referensi, makasi mas,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba Sop IGA sapinya Mba, saya liat pelanggan lain pesan..daging iganya gede lho..hehehe

      Hapus